Jumat, 11 Agustus 2017

Cerpen, Oleh : Elisa Rifani
Ice Prince


             Hari itu, angin sangat kencang, seorang remaja sedang duduk menatap jatuhnya daun-daun dihadapannya, sampai akhirnya bel masuk pun berbunyi. Bel itu membuatnya secara terpaksa beranjak dari tempat favoritnya itu, dia adalah Daniel, remaja kelas 10 sekolah menengah yang cukup populer di sekolah itu.
“ Daniel?! ” Panggil seseorang dibelakangnya.
“ ... ” Daniel hanya menoleh ke gadis yang sedang menahan malu di hadapannya itu.
“ Ini, buat kamu. ” gadis itu memberikan coklat dan sebuah surat yang entah apa isinya, Daniel hanya mentapnya dengan dingin.
“ Maaf aku harus pergi. ” jawab Daniel sambil meninggalkan gadis itu yang nampak sangat kecewa kepadanya.  
            Hal seperti itu sering terjadi kepada Daniel, namun dia tidak menghiraukannya, dia hanya fokus dengan kegiatan yang berhubungan dengan sekolah. Karena sifatnya yang dingin itu banyak orang yang memanggilnya ice prince. Kecuali satu orang, dia adalah Sasa, cewek yang tergolong pintar namun sering dibully dikelasnya karena dia pindahan dari sekolah yang tidak elit dan terletak di desa yang kumuh. 
“ Teman-teman, apa kalian mencium bau busuk? ” ucap siswi yang ada dikelas itu.
“ Baunya sangat menyengat sekali, kira-kira bau apa ini? ” jawab temannya
“ Ini itu bau anak DESA yang sering main di sungai. ” sambil menekankan kata desa di depan Sasa.
“ Dasar, beraninya kalau banyak teman kalau sendirian saja seperti anak ayam yang kehilangan induknya. ” guman Sasa yang tidak sengaja terdengar oleh Daniel yang duduk tepat dibelakang Sasa. 
             Tanpa sadar Daniel tersenyum mendengar kata-kata dari mulut Sasa tersebut. Ini bukan kali pertamanya Daniel mendengr kata-kata konyol dari mulut Sasa. Dan yang membuat lucu adalah melihat Sasa  yang hanya berguman dan membuat ekspresi yang sangat konyol walaupun Daniel hanya melihatnya dari belakang. Alasan Sasa hanya berguman bukan karena takut tapi dia tidak ingin masalahnya menjadi berbelit-belit hanya karena ejekan teman-temannya itu. Karena kekonyolannya itu lama-lama pun Daniel sering kali mengerjai Sasa.
 “ Kreekk kreekkk... ” suara decitan dari gesekan lantai dan kursi yang disebabkan oleh kursi sasa yang di dorong-dorong oleh kaki Daniel.
“ Ada apa? ” tanya Sasa
“ Kau bicara padaku? Tidak ada apa-apa. ” jawab  Daniel dengan ekspresi polos.
“ Kau tadi menendang-nendang kursiku. ” jelas Sasa.
“ Itu bukan aku, tapi kakiku, apa kau mau berbicara dengan kakiku? ” ucap Daniel sambil menggerakan kakinya.
“ Dasar gila. ” guman Sasa sambil membalikan badanya kedepan dan Daniel pun hanya menahan tawa melihat itu.
Seperti itulah cara Daniel mengerjai Sasa, tanpa kata-kata yang menyakitkan seperti teman-temannya yang lain. Dan hal itulah yang membuat mereka berdua terlihat dekat sehingga menimbulakan gosip-gosip dan keisengan teman-temannya. Suatu ketika teman-temannya ada yang mengisengi kedekatan mereka yang disebarkan di grup kelasnya.
“ Hei lihat! dia terlihat dekat sekali. ” bisik seseorang kepada temannya.
“ Uuhhh... so sweet ” jawab temannya.
“ Hei aku punya ide, bagaimana kalua kita foto moment ini terus kita shere deh di grup? ” balasnya sambil senyum-senyum.
“ Haha ide yang cemerlang tapi sebelum di shere kita edit dulu ya?! ” jawab temannya lagi.
“ Beres.. ”
Teman-teman Sasa pun melakukan keusilan sesuai rencana tersebut. Dan itu membuat kehebohan dikelas itu yang mengakibatkan Daniel  merasa tidak nyaman. Daniel pun mulai menjahui Sasa dan hal itu membuat sasa merasa bersalah. Daniel pun bersifat dingin kepada Sasa tapi tidak kepada teman-teman lainnya.
“ Pinjam pensil dong! ” ucap Sasa kepada Daniel walau itu hanya sandiwara untuk menghilangkan rasa canggungnya.
“ ... ” daniel hanya memberikannya tanpa mengatakan satu kata pun.
“ Terima kasih. ” ucap Sasa merasa lebih canggung lagi.
“ Daniel ayo ke kantin? ” ucap teman Daneil
“ Ayo aku sudah lapar dari tadi. ” ucap Daniel dengan tersenyum yang dilihat secara langsung oleh Sasa yang ingin mengembalikan pensil Daniel.
“ Apa dia sebenci itu padaku? Aku sangat merasa bersalah jika seperti ini terus. ” batin Sasa 
Itu membuat Sasa berfikir aneh-aneh karena merasa hal itu adalah murni kesalahannya. Dan itu berlangsung selama setahun hingga mereka naik kelas 11. Dikelas 11, mereka tidak satu kelas lagi namun kelasnya bersebelahan. Dan Sasa baru sadar bahwa ada yang hilang di kehidupannya yaitu Daniel yang dulu sering mengusilinya. Suatu ketika Sasa tanpa sengaja melihat Daniel yang sedang bermain basket dari lantai dua.
“ Hmm.. seandainya mesalah itu tidak ada.. Andai saja teman-teman tidak ada yang usil.. mungkin kita tidak akan sejauh ini. ” ucap Sasa pelan sambil menatap Daniel dari jauh.
“ Heiii apa yang aku pikirkan?! ” sambung Sasa sambil masuk kedalam kelas.
Di dalam kelas sasa ketiduran dibangkunya dan hari mulai sore. Daniel yang tidak sengaja melihat Sasa tertidur sendirian dikelasnya pun tak tega untuk meninggalknnya dan akhirnya dia pun membangunkannya.
“ Sa, Sasa. ” ucap Daniel sambil mengoncangkan tubuh Sasa pelan.
“ ..emm.. ” guman Sasa dan seketika Sasa kaget dengan apa yang ada didepannya itu.
“ Kamu tertidur tadi dan ini sudah sore apa kamu tidak ingin pulang? ” tanya Daniel
“ ... ” Sasa terdiam dan bergulat dengan pikirannya sendiri.
“ Sasa? ” panggil Daniel sambil melambaikan tangannya didepan wajah Sasa
“ Ehh.. iya? Ohh.. ini aku akan pulang. ” Sasa tersadar dari lamunanya itu.
“ Baiklah kalau begitu aku duluan. ” ucap Daniel sambil melangkahkan kaki keluar kelas tapi didepan pintu Daniel membalikan badannya.
“ Apa mau pulang bareng? Kita kan searah. ” tanya Daniel kepada Sasa dan membuat Sasa kaget dengan pertanyaan itu.
“ ...iya.. ehh tidak. ” jawab Sasa ragu-ragu
“ Baiklah kalau begitu aku tunggu di tempat parkir. ” ucap Daniel sedikit terkekeh dan dilanjutkan berjalan menuju parkiran untuk mengambil motornya. 
             Di perjalanan tidak ada perbincangan apa pun antara Daniel dan Sasa. Hanya suara angin dan kendaraan lain yang lewat disekitarnya. Hingga akhirnya mereka pun tiba di rumah Sasa. 
“ Terima kasih.., apa kau mau mampir dulu? ” ucap Sasa memberanikan diri.
“ Ahh.. kurasa lain kali saja, ini sudah sore. ” jawab Daniel.
“ Kalau begitu kapan-kap... ” ucap Sasa terputus oleh suara seseorang yang sangat dia kenal.
“ Sasa, kenapa pulang sore sekali? Kenapa tidak telpon? ” ucap seseorang itu yang melainkan ibu Sasa.
“ Ahh.. ibu nanti aku jelaskan. ” ucap Sasa sambil memberi kode kepada ibunya karena adanya keberadaaan Daniel di sebelahnya.
“ Baiklah.. aku baru sadar kalau ada tamu, mau mampir dulu nak? ” ucap ibu Sasa basa-basi.
“ Maaf ini sudah sore mungkin lain kali tante. ” ucap Daniel dengan sopan.
“ Kalau begitu jangan sungkan-sungkan kalau kesini lagi. ” lanjut ibu Sasa.
“ Baikilah tante, saya pamit dulu. ” ucap Daniel sambil menundukan kepala.
“ Oh iya.. hati-hati dijalan ya nak. ” ucap ibu Sasa dan Daniel pun meninggalkan rumah Sasa.
Ketika Daniel sudah tidak tampak lagi, tatapan ibu Sasa berubah menjadi tajam dan menyelidik. Melihat hal itu Sasa hanya bisa pasrah dan menerima banyak pertanyaan yang akan dilontarkan oleh ibunya itu.
“ Siapa dia? Dan kenapa kau diantarnya? Apa dia temanmu? Apa ini ada hubungannya dengan kau yang terlambat pulang sekarang? ” tanya ibu Sasa tanpa memberikan kesempatan untuk Sasa menjawab.
“ Pertama-tama kita masuk dulu ibu nanti aku jelaskan. ” jawab Sasa sambil menggandeng ibunya masuk kedalam rumah.
“ Jadi cepat jawablah!! ” kata ibu Sasa ketika sampai di ruang tamu.
“ Baiklah... dia Daniel temanku, dia dulu satu kelas denganku di kelas 10, dia mengantarku karena ini sudah sore dan rumah kita searah, dan aku pulang sore tidak ada sangkut pautnya dengan dia. ” jawab Sasa.
“ Apa kau mengatakan dengan jujur? ” selidik ibu Sasa lagi.
“ Aku tidak bohong bu.. dan dia anak yang baik bukan seperti apa yang ibu pikirkan. ” ucap Sasa lagi.
“ Kenapa kau mengucapkan seperti itu? Itu membuatku curiga. ” balas ibu Sasa
“ Aku akan jelaskan lagi dari awal.. dia Daniel anaknya baik dan tidak aneh-aneh dia tinggal di dekat rumah kita tepatnya di sebelah SD Mawar 1 dan... ” ucap Sasa dipotong oleh ibunya
 “ Tunggu! Tadi kau bilang apa? Rumahnya didekat SD Mawar? Apa dia anaknya Bu Rani? ” tanya ibu Sasa.
“ Kurasa begitu, bagaimana ibu bisa tau? ” tanya Sasa.
“ Ahh... kenapa kau tidak bilang dari tadi.. ibu kenal dengan ibunya, ibunya benar-benar baik dan ramah pasti anaknya juga begitu. ” ucap ibu Sasa sambil senyum-senyum.
“ Lalu... apa ibu tidak jadi marah? ” tanya Sasa memastikan.
“ Tentu saja tidak kau biasa bermain dengan dia aku sangat mendukung kalau begitu dan aku akan mengatakan ke ibunya itu. ” jawab ibu Sasa sambil tersenyum yang sangat mencurigakan.
Sasa pun pergi ke kamar dengan meninggalkan ibunya yang masih tersenyum-senyum memikirkan sesuatu. Sasa melanjutkan kegiatan sehari-harinya seperti biasa dan tidak memikirkan hal-hal yang aneh yang mungkin saja di lakukan oleh ibunya. Setelah kejadian itu Sasa sering kali pulang dengan Daniel dan Daniel tidak dingin seperti biasanya. Malahan dia sangat hangat dan cere kepada Sasa. Sasa tidak tau kenapa daniel seperti itu namun sebenarnya itu karena ibu Sasa yang sudah menceritakan panjang lebar kepada ibu Danel. dan ibu Daniel sangat menyetujuhi hubungan mereka dan Daniel pun merasa senang mendengar dukungan dari ibunya sehingga dia memperlakukan Sasa seperti yang sekarang. Dan suatu ketika...
“ Sasa.. ” panggil Daniel.
“ Hmm.. ada apa? ” jawab Sasa.
“ Aku ingin membicarakan sesuatu.. ” ucap Daniel gugup.
“ Kau dari tadi sudah bicara Daniel. ” jawab Sasa terkekeh.
“ Aku serius. ” ucap Daniel dengan tegas membuat Sasa sedikit takut.
“ Ya.. katakanlah. ” ucap Sasa pelan.
“ Maafkan aku jika aku terlalu kasar dan aku ingin mengatakan kalau... ” kata Daniel menggantungkan kalimatnya.
“ kalau?? ” tanya Sasa.
“ Aku.. aku menyukaimu. ” ucap Daniel sambil menahan malu.
“ ... ” Sasa terdiam mendengarnya.
“ Aku hanya mengungkapkannya jadi anggap saja itu cuma... ”
“ Aku juga. ” kata Sasa memotong ucapan Daniel.
“ Tadi kau bilang apa? ” selidik Daniel.
“ Aku juga menyukaimu dari lama, kau puas? ” jawab Sasa sambil menutup wajahnya yang memerah seperti tomat dan Daniel hanya tersenyum lebar mendengarnya.
“ Tapi kita tidak bisa memiliki hubungan lebih dari ini sekarang, karena aku ingin menyelesaikan sekolahku dulu dan meraih cita-citaku, apa kau sanggup menungguku? ” ungkap Daniel tiba-tiba. Sasa hanya mengangguk tanda mengiyakan ungkapan Daniel tersebut.
  Beberapa tahun kemudian mereka berdua berhasil menyelesaikan sekolahnya dan mendapat pekerjaan yang diinginkan. Daniel yang berhasil menjadi polisi dan sasa yang berhasil menjadi psikolog. Walaupun mereka sudah memiliki kesibukan masing-masing, hubungan mereka tetap sama seperti dulu dan akhirnya datanglah dimana hari yang membahagiakan bagi kedua insan tersebut yaitu pernikahannya. Setelah itu mereka berdua hidup bahagia selama-lamanya.

~THE END~

1 komentar: